prosedur kompres

Posted in Uncategorized on 22 Juni 2010 by samuel surya dinata

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Perkembangan keperawatan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perkembangan keperawatan secara global. Dengan jelas dapat diamati bahwa secara berkelanjutan keperawatan di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat, baik dibidang pendidikan maupun di tatanan praktek keperawatan. Pada masa lalu keperawatan dilakukan lebih berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga keperawatan dianggap hanya sebagai kiat tanpa komponen ilmiah dan landasan keilmuan yang kokoh.

Pemeriksaan suhu merupakan salah satu pemeriksan yang digunakan untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi melalui metabolisme darah

2. Tujuan

  1. menilai kondisi metabolisme dalam tubuh.
  2. memberikan rasa nyaman terhadap pasien
  3. menurunkan suhu tubuh
  4. mencegah peradangan meluas

BAB 2

PEMBAHASAN

2.1  PEMERIKSAAN SUHU

Pemeriksaan suhu merupakan salah satu pemeriksan yang digunakan untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi melalui metabolisme darah. Suhu dalam tubuh perlu di jaga keseimbangannya, yaitu diproduksi. Proses pengaturan suhu terletak pada hypothalamus dalam system saraf pusat.bagian depan hyphotalamus dapat mengatur pembuangan panas dan bagian hyphotalamus belakang mangatur upaya penyimpanan panas.

Pembuangan atau pengeluaran panas dapat terjadi melalui beberapa proses di antaranya :

  1. radiasi yaitu proses penyebaran panas melalui gelombang electromagnet.
  2. konveksi yaitu proses penyebaran panas karena pergeseran antara daerah yang kepadatannya tidak sama seperti dari tubuh pada udara dingin yang bergerak tau pada air di kolam renang.
  3. evavorasi yaitu roses perubahan cairan menjadi uap
  4. konduksi yaitu proses pemindahan panas pada objek lain dengan langsung tanpa gerakan yang jelas, seperti bersentuhan dengan permukaan yang dingin dan lain-lain.

Pemeriksaan suhu ini dapat dilakukan malalui oral, rectal dan aksila yang digunakan untuk menilai keseimbangan suhu tubuh serta membantu menentukan diaognosis dini suatu penyakit.

2.2  CARA MEMERIKSA SUHU

2.2.1        Alat dan bahan :

  1. Thermometer
  2. 3 buah botol :
    1. Botol pertama berisi larutan sabun
    2. Botol ke 2 berisi larutan desinfektan
    3. Botol ke 3  berisi air bersih
    4. Bengkok
    5. Kertas/tisu
    6. Vaselin
    7. Buku catatan
    8. Sarung tangan

2.2.2        Prosedur kerja :

  1. pemeriksaan suhu secar aral
  2. Pemeriksaan suhu secara rectal
    1. cuci tangan
    2. gunakan sarung tangan
    3. jelaskan prosedur pada pasien
    4. atur posisi pasien dengan posisi sim atau miring
    5. pakaian di turunkan di bawah glutea
    6. tentukan thermometer, standartkan pada nilai nol, lalu oleskan vaselin
    7. letakkan telapak tangan pada sisi glatea pasien dan masukkan thermometer ke dalam rectal, jaga jangan sampai merubah tempatnya dan ukur suhu.
    8. setelah 3-5 menit angkat thermometer.
    1. cuci tangan
    2. gunakan sarung tangan
    3. jelaskan prosedur pada pasien
    4. atur posisi pasien
    5. tentukan letak bawah lidah
    6. tentukan suhu thermometer di bawah 34-35°c
    7. letakkan thermometer di bawah lidah sejajar dengan guzi
    8. anjurkan mulut dikatupkan selama 3-5 menit
    9. angkat thermometer dan baca hasilnya
    10. catat hasil
    11. bersihkan thermometer dengan kerts tisu
    12. cuci dengan air sabun dan desinfektan bilas dengan air lalu keringkan.

2.3  PROSEDUR KOMPRES

2.3.1  Pengertian kompres

Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan.

Jenis kompres :

  1. kompres panas
  2. kompres dingin

2.3.2  Tujuan pemberian kompres

a. kompres panas

v     memperlancar sirkulasi darah

v     mengurangi rasa sakit

v     memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien

v     merangsang peristatik usus

b. Kompres dingin

v     menurunkan suhu tubuh

v     mencegah peradangan meluas

v     mengurangi kongesti

v     mengurangi perdarahan setempat

v     mengurangi rasa sakit pada daerah setempat

2.3.3  Indikasi pemberian kompres

a. Kompres panas

v     klien yang kedinginan(suhu tubuh yang rendah)

v     klien dengan perut kembung

v     klien yang punya penyakit peradangan, seperti radang persendian

v     sepasme otot

v     adanya abses, hematoma

b. Kompres dingin

v     klien dengan suhu tubuh yang tinggi

v     klien dengan batuk dan muntah darah

v     pascatonsilektomi

v     radang, memar

2.3.4  Prosedur pelaksanaan

2.3.4.1        Cara pemberian kompres panas

  1. kompres panas basah
    1. Persiapan alat :

v     kom berisi air hangat sesuai kebutuhan (40-46c)

v     bak seteril berisi dua buah kasa beberapa potong dengan ukuran yang sesuai

v     kasa perban atau kain segitiga

v     pengalas

v     sarung tangan bersih di tempatnya

v     bengkok dua buah (satu kosong, satu berisi larutan Lysol 3%)

v     waslap 4 buah/tergantung kebutuhan

v     pinset anatomi 2 buah

v     korentang

  1. Prosedur

v     dekatkan alat-alat kedekat klien

v     perhatikan privacy klien

v     cuci tangan

v     atur posisi klien yang nyaman

v     pasang pengalas dibawah daerah yang akan dikompres

v     kenakan sarung tangan lalu buka balutan perban bila diperban. Kemudian, buang bekas balutan ke dalam bengkok kosong

v     ambil beberapa potong kasa dengan pinset dari bak seteril, lalu masukkan ke dalam kom yang berisi cairan hangat.

v     kemudian ambil kasa tersebut, lalu bentangkan dan letakkan pada area yang akan dikompres

v     bila klien menoleransi kompres hangat tersebut, lalu ditutup/dilapisi dengan kasa kering. selanjutnya dibalut dengan kasa perban atau kain segitiga

v     lakukan prasat ini selama 15-30 menit atau sesuai program dengan anti balutan kompres tiap 5 menit

v     lepaskan sarung tangan

v     atur kembali posisi klien dengan posisi yang nyaman

v     bereskan semua alat-alat untuk disimpan kembali

v     cuci tangan

v     dokumentasikan tindakan ini beserta responnya

Hal yang perlu diperhatikan:

  1. kain kasa harus diganti pada waktunya dan suhu kompres di pertahankan tetap hangat
  2. cairan jangan terlalu panas, hindarkan agar kulit jangan sampai kulit terbakar
  3. kain kompres harus lebih besar dari pada area yang akan dikompres
  4. untuk kompres hangat pada luka terbuka, peralatan harus steril. Pada luka tertutup seperti memar atau bengkak, peralatan tidak perlu steril karena yang penting bersih.
  5. kompres panas kering menggunakan buli-buli panas
    1. persipan alat :

v     buli-buli panas dan sarungnya

v     termos berisi air panas

v     termomerter air panas

v     lap kerja

    1. prosedur :

v     persiapan alat

v     cuci tangan

v     lakukan pemasangan telebih dahulu pada buli-buli panas dengan cara : mengisi buli-buli dengan air panas, kencangkan penutupnya kemudian membalik posisi buli-buli berulang-ulang, lalu kosongkan isinya. Siapkan dan ukur air yang di inginkan (50-60ºc)

v     isi buli-buli dengan air panas sebanyak kurang lebih setengah bagian dari buli-buli tesebut. Lalu keluarkan udaranya dengan cara :

  • letakkan atau tidurkan buli-buli di atas meja atau tempat datar.
  • Bagian atas buli-buli di lipat sampai kelihatan permukaan air di leher buli-buli
  • Kemudian penutup  buli-buli di tutup dengan rapat/benar

v     Periks apakah buli-buli bocor atau tidak lalu keringkn dengan lap kerja dan masukkan ke dalam sarung buli-buli

v     Bawa buli-buli tersebut ke dekat klien

v     Letakkan atau pasang buli-buli pada area yang memerlukan

v     Kaji secara teratur kondisi klien untuk mengetaui kelainan yang timbul akibat pemberian kompres dengan buli-buli panas, seperti kemerahan, ketidak nyamanan, kebocoran, dsb.

v     Ganti buli-buli panas setelah 30 menit di pasang dengn air anas lagi, sesuai yang di kehendaki

v     Bereskan alat alat bila sudah selesai

v     Cuci tangan

v     Dokumentasikan

Hal-hal yang peril di perhatikan :

v     buli-buli panas tidak boleh diberikan pada klien pendarahan

v     pemakaian buli-buli panas ada bagian bdomen, tutup buli-buli mengarah ke atas atau ke samping

v     pada bagian kaki, tutup buli-buli mengarah ke bawah atau ke samping

v     buli-buli harus di periksa dulu atau tidak cicin karet pada penutupnya

2.3.4.2        cara pemberian kompres dingin

  1. kompres dingin basah dengan larutan obat anti septic
    1. persiapan alat :

v     mangkok bertutup steril

v     bak steril berisi pinset steril anatomi 2 buah, beberap kain kasa sesuai keutuhan

v     cairan nti septic berupa PK 1:4000, revanol 1:1000 sampai 1:3000 dst kebutuhan, larutan betadin

v     pembalut bila perlu

v     perlak dan pengalas

v     sampiran bila perlu

  1. prosedur pelaksanaan :

v     dekatkan alat ke dekat klien

v     pasang sampiran

v     cuci tangan

v     pasang perlak pada area yang akan di kompres

v     mengocok obat atau larutan bila terdapat endapan

v     tuangkan cairan kedalam mangok steril

v     masukkan beberapa potong kasa kedalam mangkok tersebut

v     peras kain kasa trsbt dg menggunkan pingset

v     bentangkan kain kasa dan letakkan kasa di atas area yang dikompres dan di balut

v     rapikan posisi klien

v     bereskan alat-alat setelah selesai tindakan

v     cuci tangan

v     dokumentasikn

Hal yang perhatikan

v     kain kasa harus sering dibasai agar tetap basah

v     pada luka bakar kotorkasa di ganti tiap 1-2 jam

v     perhatikan kulit setempat/sekitarnya. Bila terjadi iritasi segera laporkan

v     pada malam hari agar kelembapan kompres bertahan lama, tutupi dengan kapas sublimat

  1. kompres dingin basah dengan air biasa/air es
    1. persiapan alat :

v     kom kecil berisi air biasa/air es

v     perlak pengalas

v     beberapa buah waslap/kain kasa dengan ukuran tertentu

v     sampiran bila perlu

v     selimut bila perlu

  1. prosedur :

v     dekatkan alat-alat ke klien

v     pasang sampiran bila perlu

v     cuci tngan

v     pasang pengalas pada area yang akan dikompres

v     masukkan waslap/kain kasa kedalam air biasa atau air es lalu diperas sampai lembab

v     letakkan waslap/kain kasa tersebut pada area yang akan dikompres

v     ganti waslap/kain kasa tiap kali dengan waslap/kain kasa yang sudah terendam dalam air biasa atau air es.

v     Diulang-ulang sampai suhu tubuh turun

v     Rapikan klien dan bereskan alat-alat bila prasat ini sudah selesai

v     Cuci tangan

v     Dokumentasikan

Hal yang harus diperhatikan:

v     Bila suhu tubuh 39c/lebih, tempat kompres dilipat paha dan ketiak

v     Pada pemberian kompres dilipat paha, selimut diangkat dan dipasang busur selimut di atas dada dan perut klien agar seprei atas tidak basah

  1. kompres dingin kering dengan kirbat es (eskap)
    1. Persiapan alat :

v     Kirbat es/eskap dengan sarungnya

v     Kom berisi berisi potongan-potongan kecil es dan satu sendok teh garam agar es tidak cepat mencair

v     Air dalam kom

v     Lap kerja

v     Perlak pengalas

  1. Prosedur :

v     Bawa alat-alat ke dekat klien

v     Cuci tangan

v     Masukkan batnan es ke dalam kom air supaya pinggir es tidak tajam

v     isi kirbat es dengan potongan es sebanyak kurang lebih setengah bagian dari kirbat tersebut

v     keluarkan udara dari eskap dengan melipat bagian yang kosong, lalu di tutup rapat

v     periksa skap, adakah kebocoran atau tidak

v     keringkan eskap dengan lap, lalu masukkan ke dalam sarungnya

v     buka area yang akan di kompres dan atur yang nyaman pada klien

v     pasang perlak pengalas pada bagian tubuh yang akan di kompres

v     letakkan eskap pada bagian yang memerlukan kompres

v     kaji keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa, dan suhu tubuh

v     angkat eskap bila sudah selesai

v     atur posisi klien kembali pada posisi yang nyaman

v     bereskan alat setelah selesi melakukan prasat ini

v     cuci tangan

v     dokumentasikan

hal-hal yang perlu di perhatikan

v     bila klien kedinginan atau sianosis, kirbat es harus segera di angkat

v     selama pemberian kirbat es, perhatikan kult klien terhadap keberadaan iritasi dan lain-lain

v     pemberian kirbat es untuk menurukan suhu tubuh, maka suhu tubuh harus di control setiap 30-60 menit.bila suhu sudah turun kompres di hentikan

v     bila tdak ada kirbat es bias menggunakan kantong plastic

v     bila es dalam kirbat es sudah mencair harus segera dig anti (bila perlu)

BAB 3

PENUTUP

1.1  KESIMPULAN

Bahwa indikasi pemberian kompres panas untuk klien yang kedinginan, klien dengan perut kembung, klien yang punya penyakit peradangan seperti radang persendian, sepasme otot, adanya abses, dan hematoma. Sedangkan Kompres dingin untuk klien dengan suhu tubuh yang tinggi, klien dengan batuk dan muntah darah, pascatonsilektomi, radang, dan memar.

Dalam mengkompres pasien perlu diperhatikan dengan mengontrol perkembangannya dalam waktu 30-60 menit, bila pasien kedinginan kompres harus segera di angkat, perlu di perhatikan juga keberadaan iritasi pasien, Bila suhu tubuh 39c/lebih, tempat kompres dilipat paha dan ketiak.

1.2  SARAN

  • Pembaca

Pembaca dapat memahami, dari isi kompres penurunan suhu tubuh dan dapat mengerti betapa pentingnya seorang perawat dalam kehidupan klien.

  • Perawat

Perawat bisa menerapkan konsep dari kompres penurunan suhu tubuh baik dilapangan maupun tidak di lapangan ataupun dirumah sakit agar bisa menghasilkan keperawatan yang maksimal.

  • Instansi

Instansi dapat memfasilitasi dengan fasilitas yang memadai sehingga dapat mendukung tercapainya konsep keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. 1. Program Study S-1 Keperawatan STIKES Banyuwangi. 2009. Panduan Keterampilan Prosedur Lab KDM 2. Jawa Timur : EGC
  2. 2. Ns. Kusyati, Eni, S.Kep, dkk. 2006.  ketermpilan dan prosedur laboratorium. Jakarta : EGC

masa bayi dalam kandungan

Posted in Uncategorized on 22 Juni 2010 by samuel surya dinata

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BALAKANG

Kehamilan merupakan suatu anugerah. Di perlukan perhatian ekstra selama masa kehamilan, kelahiran, serta paska kelahiran untuk memastikan proses tumbuh kembang yang optimal bagi sang buah hati. Selayaknya, kehamilan yang terjadi adalah kehamilan yang aman dan berkualitas. Aman dari arti terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan. Berkualitas dalam arti ibu dan bayi tetap dalam keadaan yang sehat.

Untuk mendapatkan kehamilan yang aman dan berkualitas, sebaiknya kehamilan tersebut adalah kehamilan yang telah di persiapkan. Kehamilan yang aman dan berkualitas harus dimulai sejak dalam masa prenatal (sejak dalam kandungan hingga kehamilan), asuhan prenatal yang diperlukan oleh tenaga medis juga memiliki peranan dalam menjamin kehamilan yang aman dan berkualitas.

Demi menjaga kehamilan aman dan berkualitas maka peran tenaga medis, terutama para bidan dan perawat dalam mejaga kualitas ibu hamil, bayi dan anak dibutuhkan tenaga medis yang professional.

  1. TUJUAN PENULISAN MAKALAH

Tujuan Penulisan Makalah ini untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan kualitas peran perawat dan bidan dalam memastikan ibu hamil, bayi, dan anak mendapatkan asupan nutrisi yang di perlukan untuk tumbuh kembang secara optimal, karena perawat dan bidang merupakan tenaga medis yang terdiri di barisan paling depan untuk menjaga kualitas ibu hamil, bayi dan sejak dini.

BAB II

PEMBAHASA

  1. PERIODE TUMBUH KEMBANG ANAK SEBELUM LAHIR

Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang di mulai sejak konsepsi sampai dewasa. Tumbuh kembang anak terbagi dalam beberapa periode. Berdasarkan kepustakaan, maka periode tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut:

Masa Prenatal Atau Masa Intrauterin (masa janin dalam kandungan) masa ini di bagi dalam tiga periode, yaitu:

  • Masa zigot/mudigah : sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu.
  • Masa embrio : sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu.

Ovum yang telah di buahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung dengan cepat, terbentuk system organ dalam tubuh.

  • Masa janin/fetus : sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan.

Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :

Masa fetus dini : yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke 2 kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan pembentukan jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah terbentuk serta mulai berfungsi.

Masa fetus lanjut : yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi. Terjadi transfer immunoglobulin G (Ig G) dari darah ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esensial seri Omega3 (Docosa Hexanic Acid) dan Omega6  (Arachidonic Acid ) pada otak dan retina.

Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama kehamilan. Pad aperiode ini tumbuh otak janin sangat peka terhadap pengaruh lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok, minuman beralkohol, obat-obat, bahan-bahan toksik, pola asuh, depresi berat, factor psikologis seperti kekersan terhadap ibu hamil, dapat menimbulkan buruk bagi pertumbuhan janin dan kehamilan.

  1. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUH TUMBUH KEMBANG

Secara umum terdapat 2 faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kebang anak, yaitu :

B.1 Faktor Genetik

Termasuk factor genetikan antara lain adalah factor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin suku, bangsa dan bangsa. Potensi genetic yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi terhadap lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal. Gangguan pertumbuhan di Negara maju lebih sering di akibatkan oleh factor genetic ini. Sedangkan di Negara yang sedang berkembang gangguan pertumbuhan selain di akibatkan oleh factor genetic, juga factor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang anak yang optimal, bahkan ke dua factor ini juga dapat menyebabkan kematian anak-anak sebelum mencapai usia balita.

B.2 faktor lingkungan

Lingkungan merupakan factor yang paling menentukan tercapai atau tidaknya factor bawaan. Lingkungan ini merupakan lingkungan “ bio-fisiko-psiko – social” yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai dengan hayatnya.

Factor lingkungan ini secara garis besar di bagi menjadi :

a)      Factor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (masa pranatal)

b)      Factor lingkungan yang lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (masa posnatal)

  1. FAKTOR LINGKUNGAN PRENATAL

Factor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir antara lain adalah :

  1. Gizi ibu pada waktu hamil

Gizi ibu yang jelek pada saat kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus, dll.

Sebuah penelitian terbaru oleh Dr.E. Birch melaporkan bahwa anak yang di berikan asupan susu dengan 0,36% DHA (90 mg DHA/100 gram) dan 0,72% ARA ( 180 mg ARA / 100gram) selama awal kehidupannya, pada usia 4 tahun memiliki tingkat IQ 7 poin lebih tinggi di bandingkan mereka yang tidak mendapatkan DHA dan ARA. Penelitian tersebut menunjukkan bahkan bukan hanya isi kandungan saja, tetapi juga kadar kandungannya ikut menentukan manfaat kecerdasannya.

  1. Mekanisme

Trauma dan cairan ketuban yang dapat menyebakan kelainan bawaan pada bayi yang akan di lahirkan. demikian pula pada posisi janin pada uterus dapat mengkibatkan talipes, dislokas panggul, tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kronio tabes.

  1. Toksin / zat kimia

Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti talidomoda, penitoil, metadion, obat-obatan anti kanker, dan lain sebagainya dapt menyebabkan kelainan bawaan. Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat atau peminum alcohol kronis sering melahirkan bayi BBLR, lahir mati, cacat atau retadasi mental.

Keracunan logam berat pada ibu hamil, misalnya karena makan ikan yang terkontaminasi merkuri dapat mengakibatkan mikrosefali dan palsi serebralis, seperti di jepang yang di kenal sebagai penyakit minamata.

  1. Endokrin

Hormone-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatrotopin, hormone plasenta, hormone tiroid, insulin dan peptide-peptida lain dengan aktifitas mirip insulin (insulin – like growt factors / IGFs )

Somatrotopin (growth hormone) di sekresi oleh kelenjar hipofisis ajnin sekitar minggu ke 9. produksinya terus meningkat sampai minggu ke 20. selanjutnya menetap sampai lahir. Perannya belum jelas pada janin. Hormone-hormon tiroid seperti TRH (thiyroid realizing hormone), TSH (thyroid simulating hormone), T3 dan T4 sudah di produksi oleh janin sejak minggu ke 12. pengaturan oleh hipofisis sudah terjadi pada minggu ke 13. kadar hormone ini makin meningkat sampai minggu ke 24, lalu konstan. Perannya belum jelas tetapi jika terdapat defisiensi hormone tersebut, dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Insulin mulai di produksi oleh janin pada minggu ke 11, lalu meningkat sampai bulan ke 6 dan kemudian konstan. Befungsi untuk petumbuhan janin melalui pengaturan keseimbangan glukosa darah, sintesis protein janin.

  1. Radiaasi

Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya. Misalnya pada peristiwa di Hiroshima, Nagasaki dan chernobel. Sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki, dapat mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.

  1. Infeksi

Infeksi intra uterin yang sering menyebabkan Cacat Bawaan adalah capital torch (toxoplasmosis, rubella, cytomegalofirus, herpes simplex). Sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah farisella coxackie, echovirus, malaria lues, hiv, campak, polio, listeriosis, leptospira, mikoplasma, virus influinsa, dan hepatitis. Diduga setiap hiperpireksia pada ibu hamil dapat merusak janin.

  1. Stress

Stress yang di alami ibu pada ibu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan jiwa, kejiwaan dan lain-lain

  1. Imunitas

Resis atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrofetalis, kern ikterus, atau lahir mati.

  1. Anoksia embrio

Menurutnya oksigenasi janin melalui pada ganguan plasenta atau tali pusat menyebabkan Berat Badan Lahir Rendah.

  1. PRILAKU PRANATAL

Janin dalam kandungan ternyata memiliki kebiasaan dan gerakan seperti bayi yang sudah lahir. Mereka mampu mengejapkan mata, menguap, mengernyitkan dahi, menangis, tersenyum, dan berjalan! Sampai detik ini, kalangan dokter dan orangtua percaya, janin dalam rahim tak dapat tersenyum sampai beberapa minggu setelah lahir. Namun, dengan bantuan scan ultrasound 4D jenis terbaru, gerakan-gerakan janin dapat dilihat secara gamblang dan jauh lebih detil ketimbang ultrasound konvensional. Seperti tampak dalam gambar, janin

  • Pada usia 12 minggu, janin dapat meregang, menendang, dan melangkah. Ini terjadi jauh sebelum si ibu mampu merasakan gerakan-gerakan janin dalam perutnya.
  • Usia 18 minggu, janin dapat membuka matanya meskipun sebagian besar dokter berpikir kelopak mata janin masih menempel sampai usia 26 minggu.
  • Usia 26 minggu, janin melakukan semua gerakan, bahkan mampu menunjukkan perasaannya selayaknya bayi yang sudah lahir. Mereka menggaruk, tersenyum, menangis, cegukan, dan mengisap.
  1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRILAKU PRANATAL

Kondisi Ibu hamil, aspek fisik dan psikis adalah dua hal yang terkait erat, saling pengaruh-mempengaruhi, atau hampir tidak terpisahkan. Jika kondisi fisiknya kurang baik, maka proses berpikir, suasana hati, kendali emosi dan tindakan yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari akan terkena imbas negatifnya

Antara lain, suasana hati atau keadaan emosi cepat berubah, kepekaan meningkat, dan perubahan pola. Suasana hati yang kelam dan emosi yang meledak-ledak dapat mempengaruhi detak jantung, tekanan darah, produksi adrenalin, aktivitas kelenjar keringat, sekresi asam lambung, dan lain-lain. Trauma, stres, atau tekanan psikologis juga dapat memunculkan gejala fisik seperti letih, lesu, mudah marah, gelisah, pening, mual atau merasa malas. Karena perubahan yang terjadi pada fisik mempengaruhi aspek psikologis dan sebaliknya, maka mudah bagi ibu hamil untuk mengalami trauma. trauma ini ternyata dapat dirasakan juga oleh janin. Bahkan, janin sudah menunjukkan reaksi terhadap stimulasi yang berasal dari luar tubuh ibunya. Oleh karena itu, mau tidak mau ibu hamil harus menjaga kondisi fisik maupun psikisnya agar bayinya dapat tumbuh sehat.

  1. PERILAKU ABNORMAL PRANATAL

Teknik pengambilan gambar yang dikembangkan Campbell, selain menyajikan gambar-gambar 3D, juga membantu dokter mendapatkan peringatan dini bila bayi-bayi dalam kandungan itu abnormal, seperti:

  • Langit-langit mulutnya terbelah,
  • Menderita sindrom down
  • Kelainan lain yang berkaitan dengan tungkai, lengan, serta anggota tubuh lainnya.
  1. NUTRISI UNTUK KEHAMILAN AMAN DAN BERKUALITAS

ASI/susu eksklusif merupakan sumber nutrisi yang terbaik bagi bayi untuk tumbuh kembang yang optimal. Pemberian ASI selama 6 bulan sangat penting, karena ASI memiliki kandungan nutrisi paling lengkap untuk tumbuh kembang anak, termasuk untuk perkembangan otaknya.

Oleh karena itu sebisa mingkin setiap ibu memberikan ASI kepada bayi mereka. Namun bila karena suatu hal ibu tidak bias memberikan ASI, sebaiknya ibu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan buah hatinya tetap mendapatkan cukup nutrisi untuk tumbuh kembangnya.

Salah satu nutrisi yang berperan penting dalam kehamilan adalah kolina, yang merupakan komponen penting dalam membangun jaringan otak, termasuk proses perkembangan memori dan pembelajaran pada bayi. The United States Institute Of Medicine (IOM) merekomendasikan pemberian kolina sebesar 450 mg per hari untuk ibu hamil. Sebaiknya kolina di konsumsi sejak merencanakan kehamilan.

  1. GIZI IBU HAMIL

Untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil, maka ibu hamil harus makan teratur 3 kali sehari dimana hidangan harus tersusun dari bahan makanan yang bergizi yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan dan di usahakan minum susu minimal 1 gelas setiap hari. Piih bahan makanan yang segar dan hindari bahan makanan yang di awetkan.

Ibu hamil membutuhkan lebih banyak energy protein, vitamin A,C, D dan kelompok vitamin B (B1, B2, B6, B12), zat besi, kalsium, serat makanan untuk menjaga kesehatan ibu dan zat gizi untuk perkembangan  otak dalam kandungan seperti Omega 3, Omega 6, DHA, asam folat dan kolin.

Diagram kebutuhan vitamin dan energi ibu hamil :

JENIS VITAMIN SUMBER FUNGSI
Vitamin A Lemak hewani, mentega, keju, kuning telur, susu lengkap, minyak ikan, sayuran hijau, buah yang kuning dan sayuran. Membantu pertumbuhan sel tubuh dan penglihatan, menyehatkankan rambut dan kulit integritas membrane epitel dan mencegah xerophtalmia
Vitamin B1 (thiamin) larut dalam air Ikan daging ayam tanpa lemak, kacang-kacangan dan susu Metabolisme karbohidrat, membantu kelancaran system persarafan, dan mencegah beri-beri atau penyakit yang di tandai neuritis.
Vitamin B2 (riboflavin)

Larutan dalam air

Telur, sayur hijau, daging tanpa lemak, susu, dan biji-bijian Membantu membentuk enzim, pertumbuhan, dan membantu adaptasi cahaya dalam mata
Vitamin B3 (niacin) Daging tanpa lemak, hati ikan,kacang-kacangan, biji-bijian, telur dan hati Metabolisme karbohidrat, lemak, protein, dan komponen unzim serta mencegah menurunnya nafsu makan
Vitamin B6 (pyrodoksin) Biji-bijian, sayur, daging dan pisang Membantu kesehatan gusi dan gigi, pembentukan sel darah merah, serta metabolisme karbohidrat, lemak dan protein
Vitamin B12 (cyanocobalamin) Hati, susu, daging tanpa lemak, kerang laut. Metabolisme protein, membantu pembentukan sel darah merah, kesehatan jaringan dan mencegah anemia.
Vitamin C (ascorbut acid) Jeruk, tomat, kubis, sayuran hijau dan kentang Menjaga kesehatan tulang, gusi, membantu membentuk dinding pembuluh darah dan pembuluh kapiler, kesembuhan jaringan dan tulang, serta memudahkan penyerapan zat besi dan asam folat.
Protein daging tak berlemak, ikan, telur , susu dan hasil olahannya
Zat besi Hati, telur,  daging Komponen hemoglobin dan membantu oksidasi sel
Vitamin D Minyak ikan, susu, kuning telur, mentega, hati, kerang, atau terbentuk dikulit akibat pemanasan sinar matahari Membantu penyerapan fosfor serta mencegah rakhitis
Kalsium Susu Pembentukan gigi dan tulang, aktivitas neuromuscular dan koagulasi (penggumpalan) darah.
Asa folat
Magnesium Biji-bijian, susu dan daging Pengaktifan enzim, pembentukan gigi dan tulang dan membantu kegiatan neuormuskular
Yudium Garam beryodium dan makanan laut Mengaur metabolisme tubuh dan memperlancar pertumbuhan
Omega 6 Ikan cots Pembentukan tulang, kecerdasan.
DHA Telur, susu, pembentukan saraf otak dan perkembngan otak

Kebutuhan gizi bagi ibu hamil juga penting agar luka-luka persalinan lekas sembuh dalam masa nifas (40 hari setelah melahirkan), dan untuk cadangan makanan pada masa laktasi.

Frisian flag mama di lengkapi dengan nutribrain® yang merupakan dari asam folat, Omega 3, Omega 6, DHA, dan kolin untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan otak bayi pada tahap yang paling awal dalam kehdupan.

Kebutuhan Zat Gizi Utama Ibu Hamil Tiap Trimester

TRIMESTER KE 1

(Masa pertumbuhan dasar)

Masa kritis bagi pembentukan organ janin (system saraf, otak, jaringan, otot, dan sel-sel darah), dan pembentukan plasenta, jadi selain mengkonsumsi makanan begizi seimbang, jangan abaikan kebutuhan tubuh akan protein, asam folat, seng, kolin, DHA, dan zat besi.
TRIMESTER KE 2

(masa pertumbuhan menyeluruh)

Masa pertumbuhan janin dan plasenta, serta pertumbuhan volume darah. Konsumsi akan protein, kalsium dan zat besi harus mencukupi.
TRIMESTER KE 3

(masa pertumbuhan penyempurnaan)

Masa mengoptimalkan tumbuh kembang otak janin serta persiapan persalinan. Tubuh perlu cukup zat besi, kalsium, seng, vitamin B6, DHA, Omega 3, Omega 6, dan kolin.

  1. GIZI KURANG PADA IBU HAMIL

Bila ibu mengalami kekurangna gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun pada janin, seperti berikut ini :

  1. Terhadap ibu

Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain : anemia , pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi

  1. Terhadap persalinan

Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunyaatau premature, pendarahan serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat.

  1. Terhadap janin

Kekurangan gizi pada ibu hamildapat mempengaruhi proses pertimbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfeksia, intrapartum atau mati dalam kandungan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur lingkar lengan atas (LILA) dan mengukur kadar Hb. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10-12 kg, dimana pada trimester satu pertambahan kurang dari 1 kg, trimester 2 sekitar 2 kg dan trimester 3 sekitar 6 kg. pertambahan berat badan ini sekaligus bertujuan memantau petumbuhan janin. Pengukuran LILA  dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis (KEK), sedangkan pengukuran kadar Hb untuk mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemia gizi

  1. Gangguan pada ibu hamil
  1. Anemia pada ibu hamil

Anemia dapat di definisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Disebabkan kekurangan zat besi sehingga lebih di kenal dengan istilah anemia gizi besi. Anemia defesiensi bezi merupakan salah satu gangguan yang sering terjadi selama kehamilaan. Ibu hamil umumnya mengalmi depresi sehingga hanya menerima sedikit besi kepada janin yang di butuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin turun sampai di bawah 11 gr selama trimester 3

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan ganguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi juga dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR,  anemia pada bayi yang dilahirkan. Hal ini dapat menyebabkan mordilitas dan mortalitas ibu dan kematian prenatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat meningkatkan resiko mordilitas dan mortalitas ibu dan bayi kemungkinan BBLR juga lebih besar.

  1. Resiko BBLR pada ibu hamil

Di Indonesia batas ambang LILA dan KEK adalah 23,5 cm hal ini berarti ibu hamil dengan resiko KEK di perkirakan akan melahirkan bayi BBLR. Bila bayi lahir BBLR akan mempunyai resiko kematian gizi kurang, gangguan pertmbuhan, dan gangguan perkembangan anak. Untuk mencegah resiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan wanita usia subur sudah harus mempunyai gizi yang baik misalnya dengan LILA tidak kurang dari 2,5 cm. apabila LILA sebelum hamilan kurang dari angka tersebut sebaiknya kehamilan di tunda sehingga tidak melahirkan bayi BBLR.

Hasil penelitian etwi saraswati dan kawan-kawan. Jawa barat (1998) menunjukka KEK pada batas 2,5 cm belum merupakan resiko untuk melahirkan BBLR walaupun resiko relatifnya cukup tinggi. Sedangkan ibu hamil dengan KEK pada batas 23 cm mempunyai resiko 2,0087 kali untuk melahirkan BBLR di banding dengan ibu yang mempunyai LILA dari 23 cm.

Sebagaimana disebutkan diatas berat bayi yang di lahirkan dapat dipengaruhi oleh setatis gizi baik sebelum hamil maupun saat hamil. Setatus gizi ibu sebelum hamil juga cukup berperan dalam pencapaian gizi ibu saat hamil. Penelitian rosmeri (2000) menunjukkan bahwa status gizi ibu sebelum hamil mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kejadian BBLR ibu dengan status gizi kurus sebelum hamil mempunyai resiko 4,27kali gizi baik (normal).

Hasil penelitian jumiarah,dkk.(1999) menujukkan bahwa ada hubungan kadar Hb ibu hamil dengan berat bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb berat badan bayi yang di lahirkan. Sedangkan penelitian Edwu saraswati, dkk 1998. menemukan bahwawa anemia pada batas 11 gr bukan merupakan resiko untuk melahirkan BBLR hal ini mungkin karena belum berpengaruh terhadap fungsi hormone maupun fisiologis ibu.

Selanjutnya pada analisa bivariat anemia batas 9 gr atau anemia berat di temukan secara statistic tidak nyata melahirkan BBLR. Namun, untuk melahirkan bayi mati mempunyai resiko 3,081 kali. Dari hasil analisa multivariat dengan memperhatikan masalah riwayat kehamilan sebelumnya menunjukkan bahwa ibu hamil penderita anemia berat mempunyai resiko untuk melahirkan BBLR 4,2 kali lebih tinggi di bandingkan dengan ibu yang tidak menderita anemia berat.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  1. Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa
  2. tumbuh kembang mengikuti pola-pola tertentu tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan yang lainnya.
  3. tumbuh kembang di pengaruhi oleh factor bawaan dan lingkungan. Lingkungan yang baik akan memungkinkan potensi bawaan, sedangkan yang kurang baikakan menghambatnya.
  4. pentingnya ibu dalam ekologi anak, sebagai “parade genetic” factor, yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang postnatal dan perkembangan kepribadian anak. Juga pentingnya menyusui dalam tumbuh kembang anak.
  5. perlunya stimulasi dalam tumbuh kembang anak.
  6. perlunya deteksi dan penanganan dini, untuk meningkatkan sumberdaya manusia kelak.

  1. SARAN

Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar terhadap proses pertumbuhan janin dan anak yang akan dilahirkan. Bila ibu hamil mengalami kurang gizi maka akibat yang di timblkan antara lain : keguguran, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, dan bayi lahir dengan BBLR.

Maka untuk memperkecil resiko ibu kekurangan gizi diperlukan upaya mempertahankan kondisi gizi yang baik pada ibu hamil. Upaya yang dilakukan berupa pengaturan konsumsi makanan, pemantauan pertambahan berat badan, pemeriksaan kadar Hb, dan pengukuran LILA sebelum atau saat hamil.

DAFTAR PUSTAKA

    1. Potter, PA & perry, AG., 1993, fundamental of nursing : concepts process practice, 3ͬ ͩ  editions, St. louis : mosby year book.
    2. Potter, PA & perry, AG., 1997,  fundamental of nursing : concepts process practice, 4ͭ ͪ editions, St. louis : mosby year book.
    3. Kozier Erb et all, 1995, fundamental of nursing : conseptss proses and practis ethic & values, kalifornia : Addison Wesley publisher.
    4. www. Google. Com.
    5. Abrams, B et al, Maternal Nutrition : in Maternal Fetal Medicine, 4 th ed, Creasy – Resnik, WB. Saunders, 1999, p. 122 – 131

prosedur pemasangan infus

Posted in Uncategorized on 22 Juni 2010 by samuel surya dinata

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Keperawatan merupakaan hasil proses kerjasama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat. Dalam perkembangan ilmu  keperawatan saat ini perawat dituntut untuk lebih professional dalam melakukan tindakan keperawatan yaitu pelayanan yang memuaskan dan meyakinkan.

Pemasangan infus adalah teknik yang mencakup penusukan vena melalui transkutan dengan stilet tajam yang kaku seperti angiokateler atau dengan jarum yang di sambungkan. Pemberian cairan infuse merupakan materi yang sangat sulit di terapkan karena memiliki berbagai macam tehknik-tekhnik yang berbeda-beda dan memilki kerasionalannya sendiri-sendiri juga. oleh karena itu prosedur pemberian infus memerlukan pembelajaran yang tidak sedikit.

Dalam penulisan makalah ini akan di jelaskan pengertian pemberian cairan infuse, jenis-jenis cairan intravena, indikasi dan kontraindikasi, dan prosedur pemberian cairan infuse.

1.2 TUJUAN

  1. Memberikan informasi tentang prosedur pemasangan infuse.
  2. Agar mahasiswa mampu melaksanakan pemberian infuse kepada klien saat di lapangan kerja.

BAB II

Isi

2.1 PENGERTIAN

Pungsi vena merupakan tekhnik penusukan vena melalui transkutan dengan stilet tajam yang kaku seperti angiokateter atau dengan jarum yang disambungkan pada spuit.

(Eni Kusyati 2006. hal:267)

Pada kondisi tertententu, pemberian cairan intra vena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Langkah ini efektif untuk memenuhi kebutuhan cairan eksternal secara langsung. Secara umum, tujuan terapi intra vena adalah untuk memenuhi kebutuhan cairan pada klien yang tidak mampu mengkonsumsi cairan oral secara adekuat, menambah asupan elektrolit untuk menjaga kesimbangan elektrolit, menyediakan glukosa untuk kebutuhan energi dalam proses metabolisme, memenuhi kebutuhan vitamin larut air, serta menjadi media untuk pemberian obat melalui vena. Lebih khusus, terapi intra vena di berikan pada pasien yang mengalami syok,intoksikasi berat, pasien pra dan pasca bedah, atau pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.

(Mubarok, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007 Hal:92-94)

Pemberian cairan infuse dapat di berikan pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berat. Pemberian cairan infuse ke dalam vena (pembuluh darah pasien) di antaranya pada vena lengan (vena safalika basilea dan mediana kabiti), pada tungkai (vena sakena), atau pada vena yang ada di kepala, seperti : vena temporalis krontolis (khusus untuk anak-anak). Selain pemberian infuse pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan, juga dapat dilakukan pada pasien yang mengalami syok, intoksikasi berat, pra dan pasca bedah, sebelum transfusi darah, atau pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.

(Hidayat,A Aziz alimul dan musrifatul ulyah. 2005. Hal:73-75)

2.2 CAIRAN INTRA VENA

Jenis cairan intravena yang biasa di gunakan meliputi

  1. Larutan nutrien.

Larutan ini berisi beberapa jenis karbohidrat (mis., dekstrosa dan glukosa) dan air. Larutan nutrien yang umum digunakan adalah 5°ro dekstrosa dalam air (D5W), 3,3% glukosa dalam 0,3%, NaCI, dan 5°/0 glukosa dalam 0,45% NaCl. Setiap 1 liter cairan Dextrose 5% mengandung 170-200 kalori; mengandung asam amino (Amigen, Ananosol, Travamin) atau lemak (Lipomul d-an Lyposyn).

  1. Larutan elektrolit.

Larutan elektrolit melipvti lamtan saline, baik isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Jenis larutan elektrolit yang paling banyak digunakan adalah normal salin (isotonik), yaitu NaC10,9%. Contoh larukan elektrolit lainnya adalah laktat Ringer (Na’}, K’, Cl, Ca-‘) dan cairan Butter (NaK+ Mgz+ Cl, HC03 ).

  1. Cairan asam-basa.

Jenis cairan yang termasuk cairan asam-basa adalah natrium laktat dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan sejenis garam yang dapat mengikat ion H’ dari cairan sehingga mengurangi keasaman lingkungan.

  1. Volume ekspander.

Jenis larutan ini berfungsi meningkatkan volume pembuluh darah atau plasma, misalnya pada kasus hemoragi atau kom­bustio berat. Volume ekspander yang umttm digunakan antara lain dekstran, plasma, dan albumin serum. Cara kerjanya adalah dengan meningkatkan tekanan osmotik darah.

(Mubarok, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007 Hal:92-94)

2.3 TUJUAN

  1. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
  2. Infuse pengobatan dan pemberian nutrisi

(Aziz, musrifah. 2004. Buku saku praktikum kebutuhan dasar manusia. Jakarta: EGC)

  1. Memulai dan mempertahankan terapi cairan IV.

(Eni Kusyati 2006. hal:267)

2.4 INDIKASI

  1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan.
  2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
  3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
  4. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
  5. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.

(http://www.sehatgroup.web.id/?p=200)

2.5 KONTRAINDIKASI

  1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
  2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
  3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).

(http://www.sehatgroup.web.id/?p=200)

2.6 PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN

1)      Cairan infus

2)      Infus set

3)      jarum infuse (20-22G untuk dewasa, 24-26G untuk anak-anak)

4)      pengalas

5)      tourniquet (untuk membendung aliran darah vena)

6)      kapas alcohol

7)      plaster

8)      gunting

9)      pencukur rambut

10)  kassa steril

11)  betadin

12)  bengkok

13)  sarung tangan sekalipakai

14)  spolk (bila perlu)

2.7 PERSIAPAN PASIEN/LINGKUNGAN

  1. klien diberi penjelasan tenteng hal-hal yang dilakukan saat pemasangan infuse dengan menggunakan komunikasi yang terapeutik.jika keadaan memungkinkan.
  2. pakaian klien pada daerah yang akan di pasang infuse, harus di buka (untuk mempermudah saat pemasangan infus) dan mencari venanya
  3. identifikasi vena yang dapat di akses untuk tempat pemasangan jarum IV atau kateter :
    1. hindari daerah penonjolan tulang
    2. gunakan vena dibagian yang paling distal terlebih dahulu
    3. hindarkan pemasangan selang intra vena di pergelangan tangan klien, di daerah yang mengalami peradangan, di ekstermitas yang sensasinya menurun.
  4. bila pada lingkungan banyak klien, perlu dipasang sampiran.

2.8 CARA KERJA

  1. siapkan peralatan dan bawa ke dekat klien
  2. cuci tangan
  3. siapkan cairan infuse dan infuse set
    1. buka kemasan steril dengan menggunakan tekhnik aseptic

R = mencegah kontaminasi pada objek steril

    1. periksa larutan dengan menggunaan “lima tepat” :
  • tepat klien
  • tepat obat (tanggal kadaluarsa)
  • waktu
  • dosis (tetesan infuse yang di butuhkan)
  • rute (jalan yang diberikan melalui IV)

Yakinkan tambahan resep (missal : kalium dan vitamin) telah di tambahkan. Observasi kebocoran kantung cairan.

R = larutan IV adalah obat dan harus dengan hati-hati diperiksa untuk mengurangi resiko kesalahan. Larutan yang berubah warna , mengandung partikel, atau kadaluarsa tidak di gunakan. Kebocoran kantung menunjukkan kesempatan kontaminasi dan tidak boleh di gunakan.

    1. buka penutup botol invus dan buka set infuse dengan mempertahankan sterilitas dari kedua ujung.

R = mencegah bakteri masuk ke peralatan infuse dan aliran darah.

    1. tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm di bawah ruang drip dan gerakkan klem rol pada posisi “off”

R = kedekatan klem rol pada ruang drip memungkinkan pengaturan lebih akurat tentang kecepatan aliran. Gerakkan klem pada “off” mencegah penetesan cairan pada klien, perawat, tempat tidur, atau lantai.

    1. lepaskan pembungkus lubang slang IV pada kantung larutan IV plastic. Tusukkan set infuse ke dalam kantung cairan atau botol.

R = memberi akses untuk insersi slang infuse ke dalam larutan

NB=jangan menyentuh jarum penusuk botol infuse karena bagian ini steril.jika misal jarum jatuh kelantai, buang slang IV tersebut dang anti dengan yang baru.

    1. aliran larutan IV pada slang infuse. Tekan ruang drip dan lepaskan, ini memungkinkan pengisian 1/3 sampai ½ penuh.

R = menjamin slang bersih dari udara sebelum penyambungan ke IV, dan mencegah udara masuk ke dalam slang.

    1. pelindung jarum tidak di lepas dan lepaskan klem rol untuk memungkinkan cairan mengalir dari ruang drip melalui slang ke adapter jarum. Kembalikan klem rol ke posisi “off” setelah slang terisi.

R = pengisian lambat slang menurunkan turbelens dan terbentuknya gelembung. Keluarkan udara dari slang dan biarkan slang terisi larutan. Penutupan klem mencegah kehilangan cairan yang tidak sengaja.

    1. Yakinkan slang bersih dari udara dan gelembung udara.

R = gelembung udara besar dapat bertindak sebagai emboli

  1. Pasang perlak
  2. Jika ada rambut, cukur daerah tersebut ± 2 inchi / 5cm

R = Mengurangi resiko kontaminasi dari bakteri pada rambut. Juga membantu mempertahankan keutuhan balutan intra vena dan membuat pelepasan plester tidak terlalu menimbulkan nyeri. Pencukuran dapat menyebabkan mikroabrasi dan menjadi predis posisi terjadinya infeksi ( metheny,1996).

  1. Apabila memungkinkan, letakkan ekstermitas pada posisi dependen ( dalam keadaan ditompang sesuatu).

R = Memungkinkan dilatasi vena sehingga vena dapat dilihat.

  1. Siapkan alat2 yang tidak steril:

a)      Pasang perlak dibawah tangan/area yang akan di infuse

b)      Siapkan plester ukuran 1.25 panjang ± 9cm

c)      Siapkan kasa steril

d)      Buka insersi bevel

R =  untuk mempermudah saat melakukan tindakan

  1. pasang tourniquet ± 5-7 inchi / 10-15 cm di atas / di daerah yang akan ditusuk

R = tourniquet menekan aliran balik vena tetapi tidak menyumbat aliran arteri.

  1. Kenakan sarung tangan (tangan kanan steril tangan kiri bersih)

R = mengurangi pemaparan pada organisme HIV , hepatitis dan organismme yang di tularkan melalui darah.

  1. Bersihkan daerah penusukan dengan kapas alcohol dengan arah melingkar dari tengah ketepi

R = agar terhindar dari mikroorganisme / tidak terkontaminasi

  1. Lakukan fungsi vena. Fiksasi vena dg meregangkan kulit berlawanan dg arah insersi 5-7 cm dari arah distal ke tempat fungsi vena

a)      ONC = insersi bevel (bagian ujung jarum yang miring) dg membentuk sudut 20-30 derajat searah dg aliran balik darah vena distal terhadap tempat fungsi vena yang sebenarnya.

R = memungkinkan perawat menempatkan jarum  menjadi  pararel dg vena sehingga saat vena difungsi,resiko menusuk vena sampai tembus keluarr berkurang

  1. Lihat aliran balik melalui srelang jarum aliran balik darah di ONC,yang mengindikasikan bahwa jarum telah memasuki vena. Jika sudah terasa pas masuk ke vena  insersi bevel di landaikan dan di masukkan sampai penuh

R=penggunaan jari yang sama mempengaruhi terjadinya sensitifitas terhadap kajian yang lebih baik tentang kondisi vena.Rendahkan jarum sampai hamper menyentuih kulit. Masukkan lagi kateter sekitar seperempat inci ke dalam vena dan kemudian longgarkan stylet(bagian pangkal jarum yang di masukkan ke vena)

  1. Stabilkan kateter dg salah satu tangan ,lepaskan tourniquet dan lepaskan stylet dari ONC, tekan ujung area penusukan.

R = Mengurangi aliran balik darah

  1. Hubungkan adapter jarum infuse ke hub ONC atau jarum. Jangan sentuh titik masuk adapter jarum atau bagian dalam hub ONC .

R = dengan menghubungkan set infuse dengan tepat,kepatenan vena dicapai. Mempertahankan sterilisasi.

  1. Lepaskan klem penggeser untuk memulai aliran infuse dengan kecepatan tertentu untuk mempertahankan kepetenan selang intra vena.

R= Memungkinkan aliran vena dan mencegah obstruksi aliran larutan IV.

  1. Fiksasi kateter IV atau jarum:
    1. Lepaskan sarung tangan sebelah kiri

R = agar plester tidak menempel pada sarung tangan.

    1. Tempelkan plester kecil(1-25 cm) di bawah hub kateter dg sisi perekat kearah dan silangkan plester diatas hub.

R : Mencegah kateter lepas darivena tanpa sengaja.

    1. Berikan sedikit larutan atau salep yodium-povidin pada tempat pungsi vena. Biarkan larutan mengering sesuai dengan kebijakan lembaga.

R : Larutan atau salep yodium-povidin merupakan antiseptic topical yang mengurangi bakteri pada kulit dan mengurangi resiko infeksi local atau sistemik. Apabila menggunakan balutan trasparan, larutan yodium-povidin direkomendasikan ; salep mengganggu perekatan balutan pada kulit.

    1. Tempelkan plester kecil yang kedua, langsung silangkan ke hub kateter.

R : Mencegah terlepasnya infuse IV secara tidak sengaja

    1. tempatkan kasa balutan yang berukuran 4 cm di atas fungsi vena dan hub kateter. Jangan menutupi hubungan antara selang intravena dan hub kateter. Tempelkan 2 lembar plaster mengikuti panjang kasa atau sepanjang 9 cm. sarung tangan dapat di lepas supaya tidak menempel ke plaster
    2. Fiksasi selang infuse ke kateter dengan sepotong plester berukuran 2,5 cm.

R : Menstabilkan hubungan infuse dengan kateter lebih lanjut.

  1. Buang sarung tangan dan rapikan alat yang sudah di gunakan ,selanjutnya cuci tangan

R = mengurangi penularan mikroorganisme

  1. Tulis tanggal ,waktu pemasangan selang IV ,ukuran jarum, dan tanda tangan serta inisial perawat pada plaster.

R = Memberikan data yang cepat tentang tanggal insersi IV dan dapat di ketahui penggatian balutan selanjutnya

  1. Atur kecepatan aliran untuk mengoreksi tetesan per menit

R =R memoertahankan kecepatan aliran larutan IV yang benar

  1. Observasi klien setiap jam untuk menentukan responnya terhadap terapi cairan:
    1. Jumlah larutan benar dan sesuai dangan program yang ditetapkan
    2. Kecepatan aliran benar (tetesan  per menit )
    3. Kepatenan intra vena
    4. Tidak terdapat infiltrasi, flebitis atau inflamasi.

R = memberikan evaluasi type dan jumlah cairan yang di berikan kepada klien secara berkesinambungan. inspeksi per jam mencegah terjadinya beban cairan berlebih tanpa sengaja atau hidrasi yang tidak adekuat

  1. Evaluasi

Setelah di lakukan pemasangan infuse pada klien, tidak terlihat atau terdapat tanda-tanda peradangan.

  1. Dokumentasi

(Poter, Perry. 2005. Hal 1647-1655)

Contoh dokumentasi :

Tgl Implementasi/tindakan keperawatan
25/05/2010

Jam 08:00

  • Memasang infuse (tipe cairan)
  • Tempat insersi (melalui IV)
  • Kecepatan aliran (tetesan/menit)
  • Respon klien setelah dilakukan tindakan pemasangan infuse

BAB III

PENUTUP

Makalah ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan bagi pembaca umunya dan khususnya bagi mahasiswa stikes banyuwangi tentang prosedur pemberian infuse yang benar.

Pemasangan infuse merupakan memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama dangan menggunakan infuse set.  Pemberian cairan infuse dapat diberikan pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berlebihan.


DAFTAR PUSTAKA

  1. 1. Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Saku Keterampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi5. Jakarta: EGC
  2. 2. Poter, Perry. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan. Edisi 4 vol 2. Jakarta : EGC. Hal 1647-1655
  3. 3. Kusyati, Eni. dkk. 2006. Keterampilan  dan  Prosedur laboratorium. Jakarta. EGC. Hal:267
  4. 4. Hidayat,A Aziz alimul dan musrifatul ulyah. 2005. Buku Saku: Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC. Hal:73-75
  5. 5. Mubarok, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007.Buku Ajar: Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EG. Hal:92-94
  6. 6. Arifianto.2006.Pemberian Cairan Infus Intravena (Intravenous Fluids). http://www.sehatgroup.web.id/?p=20.admin.26 mei 2010. 04:00

Hello world!

Posted in Uncategorized on 21 Juni 2010 by samuel surya dinata

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!