prosedur pemasangan infus

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Keperawatan merupakaan hasil proses kerjasama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat. Dalam perkembangan ilmu  keperawatan saat ini perawat dituntut untuk lebih professional dalam melakukan tindakan keperawatan yaitu pelayanan yang memuaskan dan meyakinkan.

Pemasangan infus adalah teknik yang mencakup penusukan vena melalui transkutan dengan stilet tajam yang kaku seperti angiokateler atau dengan jarum yang di sambungkan. Pemberian cairan infuse merupakan materi yang sangat sulit di terapkan karena memiliki berbagai macam tehknik-tekhnik yang berbeda-beda dan memilki kerasionalannya sendiri-sendiri juga. oleh karena itu prosedur pemberian infus memerlukan pembelajaran yang tidak sedikit.

Dalam penulisan makalah ini akan di jelaskan pengertian pemberian cairan infuse, jenis-jenis cairan intravena, indikasi dan kontraindikasi, dan prosedur pemberian cairan infuse.

1.2 TUJUAN

  1. Memberikan informasi tentang prosedur pemasangan infuse.
  2. Agar mahasiswa mampu melaksanakan pemberian infuse kepada klien saat di lapangan kerja.

BAB II

Isi

2.1 PENGERTIAN

Pungsi vena merupakan tekhnik penusukan vena melalui transkutan dengan stilet tajam yang kaku seperti angiokateter atau dengan jarum yang disambungkan pada spuit.

(Eni Kusyati 2006. hal:267)

Pada kondisi tertententu, pemberian cairan intra vena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit tubuh. Langkah ini efektif untuk memenuhi kebutuhan cairan eksternal secara langsung. Secara umum, tujuan terapi intra vena adalah untuk memenuhi kebutuhan cairan pada klien yang tidak mampu mengkonsumsi cairan oral secara adekuat, menambah asupan elektrolit untuk menjaga kesimbangan elektrolit, menyediakan glukosa untuk kebutuhan energi dalam proses metabolisme, memenuhi kebutuhan vitamin larut air, serta menjadi media untuk pemberian obat melalui vena. Lebih khusus, terapi intra vena di berikan pada pasien yang mengalami syok,intoksikasi berat, pasien pra dan pasca bedah, atau pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.

(Mubarok, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007 Hal:92-94)

Pemberian cairan infuse dapat di berikan pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berat. Pemberian cairan infuse ke dalam vena (pembuluh darah pasien) di antaranya pada vena lengan (vena safalika basilea dan mediana kabiti), pada tungkai (vena sakena), atau pada vena yang ada di kepala, seperti : vena temporalis krontolis (khusus untuk anak-anak). Selain pemberian infuse pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan, juga dapat dilakukan pada pasien yang mengalami syok, intoksikasi berat, pra dan pasca bedah, sebelum transfusi darah, atau pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.

(Hidayat,A Aziz alimul dan musrifatul ulyah. 2005. Hal:73-75)

2.2 CAIRAN INTRA VENA

Jenis cairan intravena yang biasa di gunakan meliputi

  1. Larutan nutrien.

Larutan ini berisi beberapa jenis karbohidrat (mis., dekstrosa dan glukosa) dan air. Larutan nutrien yang umum digunakan adalah 5°ro dekstrosa dalam air (D5W), 3,3% glukosa dalam 0,3%, NaCI, dan 5°/0 glukosa dalam 0,45% NaCl. Setiap 1 liter cairan Dextrose 5% mengandung 170-200 kalori; mengandung asam amino (Amigen, Ananosol, Travamin) atau lemak (Lipomul d-an Lyposyn).

  1. Larutan elektrolit.

Larutan elektrolit melipvti lamtan saline, baik isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Jenis larutan elektrolit yang paling banyak digunakan adalah normal salin (isotonik), yaitu NaC10,9%. Contoh larukan elektrolit lainnya adalah laktat Ringer (Na’}, K’, Cl-, Ca-‘) dan cairan Butter (NaK+ Mgz+ Cl-, HC03 ).

  1. Cairan asam-basa.

Jenis cairan yang termasuk cairan asam-basa adalah natrium laktat dan natrium bikarbonat. Laktat merupakan sejenis garam yang dapat mengikat ion H’ dari cairan sehingga mengurangi keasaman lingkungan.

  1. Volume ekspander.

Jenis larutan ini berfungsi meningkatkan volume pembuluh darah atau plasma, misalnya pada kasus hemoragi atau kom­bustio berat. Volume ekspander yang umttm digunakan antara lain dekstran, plasma, dan albumin serum. Cara kerjanya adalah dengan meningkatkan tekanan osmotik darah.

(Mubarok, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007 Hal:92-94)

2.3 TUJUAN

  1. Memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit.
  2. Infuse pengobatan dan pemberian nutrisi

(Aziz, musrifah. 2004. Buku saku praktikum kebutuhan dasar manusia. Jakarta: EGC)

  1. Memulai dan mempertahankan terapi cairan IV.

(Eni Kusyati 2006. hal:267)

2.4 INDIKASI

  1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan.
  2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
  3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
  4. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
  5. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.

(http://www.sehatgroup.web.id/?p=200)

2.5 KONTRAINDIKASI

  1. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
  2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
  3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).

(http://www.sehatgroup.web.id/?p=200)

2.6 PERSIAPAN ALAT DAN BAHAN

1)      Cairan infus

2)      Infus set

3)      jarum infuse (20-22G untuk dewasa, 24-26G untuk anak-anak)

4)      pengalas

5)      tourniquet (untuk membendung aliran darah vena)

6)      kapas alcohol

7)      plaster

8)      gunting

9)      pencukur rambut

10)  kassa steril

11)  betadin

12)  bengkok

13)  sarung tangan sekalipakai

14)  spolk (bila perlu)

2.7 PERSIAPAN PASIEN/LINGKUNGAN

  1. klien diberi penjelasan tenteng hal-hal yang dilakukan saat pemasangan infuse dengan menggunakan komunikasi yang terapeutik.jika keadaan memungkinkan.
  2. pakaian klien pada daerah yang akan di pasang infuse, harus di buka (untuk mempermudah saat pemasangan infus) dan mencari venanya
  3. identifikasi vena yang dapat di akses untuk tempat pemasangan jarum IV atau kateter :
    1. hindari daerah penonjolan tulang
    2. gunakan vena dibagian yang paling distal terlebih dahulu
    3. hindarkan pemasangan selang intra vena di pergelangan tangan klien, di daerah yang mengalami peradangan, di ekstermitas yang sensasinya menurun.
  4. bila pada lingkungan banyak klien, perlu dipasang sampiran.

2.8 CARA KERJA

  1. siapkan peralatan dan bawa ke dekat klien
  2. cuci tangan
  3. siapkan cairan infuse dan infuse set
    1. buka kemasan steril dengan menggunakan tekhnik aseptic

R = mencegah kontaminasi pada objek steril

    1. periksa larutan dengan menggunaan “lima tepat” :
  • tepat klien
  • tepat obat (tanggal kadaluarsa)
  • waktu
  • dosis (tetesan infuse yang di butuhkan)
  • rute (jalan yang diberikan melalui IV)

Yakinkan tambahan resep (missal : kalium dan vitamin) telah di tambahkan. Observasi kebocoran kantung cairan.

R = larutan IV adalah obat dan harus dengan hati-hati diperiksa untuk mengurangi resiko kesalahan. Larutan yang berubah warna , mengandung partikel, atau kadaluarsa tidak di gunakan. Kebocoran kantung menunjukkan kesempatan kontaminasi dan tidak boleh di gunakan.

    1. buka penutup botol invus dan buka set infuse dengan mempertahankan sterilitas dari kedua ujung.

R = mencegah bakteri masuk ke peralatan infuse dan aliran darah.

    1. tempatkan klem rol kurang lebih 2-5 cm di bawah ruang drip dan gerakkan klem rol pada posisi “off”

R = kedekatan klem rol pada ruang drip memungkinkan pengaturan lebih akurat tentang kecepatan aliran. Gerakkan klem pada “off” mencegah penetesan cairan pada klien, perawat, tempat tidur, atau lantai.

    1. lepaskan pembungkus lubang slang IV pada kantung larutan IV plastic. Tusukkan set infuse ke dalam kantung cairan atau botol.

R = memberi akses untuk insersi slang infuse ke dalam larutan

NB=jangan menyentuh jarum penusuk botol infuse karena bagian ini steril.jika misal jarum jatuh kelantai, buang slang IV tersebut dang anti dengan yang baru.

    1. aliran larutan IV pada slang infuse. Tekan ruang drip dan lepaskan, ini memungkinkan pengisian 1/3 sampai ½ penuh.

R = menjamin slang bersih dari udara sebelum penyambungan ke IV, dan mencegah udara masuk ke dalam slang.

    1. pelindung jarum tidak di lepas dan lepaskan klem rol untuk memungkinkan cairan mengalir dari ruang drip melalui slang ke adapter jarum. Kembalikan klem rol ke posisi “off” setelah slang terisi.

R = pengisian lambat slang menurunkan turbelens dan terbentuknya gelembung. Keluarkan udara dari slang dan biarkan slang terisi larutan. Penutupan klem mencegah kehilangan cairan yang tidak sengaja.

    1. Yakinkan slang bersih dari udara dan gelembung udara.

R = gelembung udara besar dapat bertindak sebagai emboli

  1. Pasang perlak
  2. Jika ada rambut, cukur daerah tersebut ± 2 inchi / 5cm

R = Mengurangi resiko kontaminasi dari bakteri pada rambut. Juga membantu mempertahankan keutuhan balutan intra vena dan membuat pelepasan plester tidak terlalu menimbulkan nyeri. Pencukuran dapat menyebabkan mikroabrasi dan menjadi predis posisi terjadinya infeksi ( metheny,1996).

  1. Apabila memungkinkan, letakkan ekstermitas pada posisi dependen ( dalam keadaan ditompang sesuatu).

R = Memungkinkan dilatasi vena sehingga vena dapat dilihat.

  1. Siapkan alat2 yang tidak steril:

a)      Pasang perlak dibawah tangan/area yang akan di infuse

b)      Siapkan plester ukuran 1.25 panjang ± 9cm

c)      Siapkan kasa steril

d)      Buka insersi bevel

R =  untuk mempermudah saat melakukan tindakan

  1. pasang tourniquet ± 5-7 inchi / 10-15 cm di atas / di daerah yang akan ditusuk

R = tourniquet menekan aliran balik vena tetapi tidak menyumbat aliran arteri.

  1. Kenakan sarung tangan (tangan kanan steril tangan kiri bersih)

R = mengurangi pemaparan pada organisme HIV , hepatitis dan organismme yang di tularkan melalui darah.

  1. Bersihkan daerah penusukan dengan kapas alcohol dengan arah melingkar dari tengah ketepi

R = agar terhindar dari mikroorganisme / tidak terkontaminasi

  1. Lakukan fungsi vena. Fiksasi vena dg meregangkan kulit berlawanan dg arah insersi 5-7 cm dari arah distal ke tempat fungsi vena

a)      ONC = insersi bevel (bagian ujung jarum yang miring) dg membentuk sudut 20-30 derajat searah dg aliran balik darah vena distal terhadap tempat fungsi vena yang sebenarnya.

R = memungkinkan perawat menempatkan jarum  menjadi  pararel dg vena sehingga saat vena difungsi,resiko menusuk vena sampai tembus keluarr berkurang

  1. Lihat aliran balik melalui srelang jarum aliran balik darah di ONC,yang mengindikasikan bahwa jarum telah memasuki vena. Jika sudah terasa pas masuk ke vena  insersi bevel di landaikan dan di masukkan sampai penuh

R=penggunaan jari yang sama mempengaruhi terjadinya sensitifitas terhadap kajian yang lebih baik tentang kondisi vena.Rendahkan jarum sampai hamper menyentuih kulit. Masukkan lagi kateter sekitar seperempat inci ke dalam vena dan kemudian longgarkan stylet(bagian pangkal jarum yang di masukkan ke vena)

  1. Stabilkan kateter dg salah satu tangan ,lepaskan tourniquet dan lepaskan stylet dari ONC, tekan ujung area penusukan.

R = Mengurangi aliran balik darah

  1. Hubungkan adapter jarum infuse ke hub ONC atau jarum. Jangan sentuh titik masuk adapter jarum atau bagian dalam hub ONC .

R = dengan menghubungkan set infuse dengan tepat,kepatenan vena dicapai. Mempertahankan sterilisasi.

  1. Lepaskan klem penggeser untuk memulai aliran infuse dengan kecepatan tertentu untuk mempertahankan kepetenan selang intra vena.

R= Memungkinkan aliran vena dan mencegah obstruksi aliran larutan IV.

  1. Fiksasi kateter IV atau jarum:
    1. Lepaskan sarung tangan sebelah kiri

R = agar plester tidak menempel pada sarung tangan.

    1. Tempelkan plester kecil(1-25 cm) di bawah hub kateter dg sisi perekat kearah dan silangkan plester diatas hub.

R : Mencegah kateter lepas darivena tanpa sengaja.

    1. Berikan sedikit larutan atau salep yodium-povidin pada tempat pungsi vena. Biarkan larutan mengering sesuai dengan kebijakan lembaga.

R : Larutan atau salep yodium-povidin merupakan antiseptic topical yang mengurangi bakteri pada kulit dan mengurangi resiko infeksi local atau sistemik. Apabila menggunakan balutan trasparan, larutan yodium-povidin direkomendasikan ; salep mengganggu perekatan balutan pada kulit.

    1. Tempelkan plester kecil yang kedua, langsung silangkan ke hub kateter.

R : Mencegah terlepasnya infuse IV secara tidak sengaja

    1. tempatkan kasa balutan yang berukuran 4 cm di atas fungsi vena dan hub kateter. Jangan menutupi hubungan antara selang intravena dan hub kateter. Tempelkan 2 lembar plaster mengikuti panjang kasa atau sepanjang 9 cm. sarung tangan dapat di lepas supaya tidak menempel ke plaster
    2. Fiksasi selang infuse ke kateter dengan sepotong plester berukuran 2,5 cm.

R : Menstabilkan hubungan infuse dengan kateter lebih lanjut.

  1. Buang sarung tangan dan rapikan alat yang sudah di gunakan ,selanjutnya cuci tangan

R = mengurangi penularan mikroorganisme

  1. Tulis tanggal ,waktu pemasangan selang IV ,ukuran jarum, dan tanda tangan serta inisial perawat pada plaster.

R = Memberikan data yang cepat tentang tanggal insersi IV dan dapat di ketahui penggatian balutan selanjutnya

  1. Atur kecepatan aliran untuk mengoreksi tetesan per menit

R =R memoertahankan kecepatan aliran larutan IV yang benar

  1. Observasi klien setiap jam untuk menentukan responnya terhadap terapi cairan:
    1. Jumlah larutan benar dan sesuai dangan program yang ditetapkan
    2. Kecepatan aliran benar (tetesan  per menit )
    3. Kepatenan intra vena
    4. Tidak terdapat infiltrasi, flebitis atau inflamasi.

R = memberikan evaluasi type dan jumlah cairan yang di berikan kepada klien secara berkesinambungan. inspeksi per jam mencegah terjadinya beban cairan berlebih tanpa sengaja atau hidrasi yang tidak adekuat

  1. Evaluasi

Setelah di lakukan pemasangan infuse pada klien, tidak terlihat atau terdapat tanda-tanda peradangan.

  1. Dokumentasi

(Poter, Perry. 2005. Hal 1647-1655)

Contoh dokumentasi :

Tgl Implementasi/tindakan keperawatan
25/05/2010

Jam 08:00

  • Memasang infuse (tipe cairan)
  • Tempat insersi (melalui IV)
  • Kecepatan aliran (tetesan/menit)
  • Respon klien setelah dilakukan tindakan pemasangan infuse

BAB III

PENUTUP

Makalah ini diharapkan mampu memberikan tambahan pengetahuan bagi pembaca umunya dan khususnya bagi mahasiswa stikes banyuwangi tentang prosedur pemberian infuse yang benar.

Pemasangan infuse merupakan memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama dangan menggunakan infuse set.  Pemberian cairan infuse dapat diberikan pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berlebihan.


DAFTAR PUSTAKA

  1. 1. Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Saku Keterampilan Dan Prosedur Dasar. Edisi5. Jakarta: EGC
  2. 2. Poter, Perry. 2005. Buku ajar fundamental keperawatan. Edisi 4 vol 2. Jakarta : EGC. Hal 1647-1655
  3. 3. Kusyati, Eni. dkk. 2006. Keterampilan  dan  Prosedur laboratorium. Jakarta. EGC. Hal:267
  4. 4. Hidayat,A Aziz alimul dan musrifatul ulyah. 2005. Buku Saku: Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: EGC. Hal:73-75
  5. 5. Mubarok, Wahid Iqbal dan Nurul Chayatin.2007.Buku Ajar: Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EG. Hal:92-94
  6. 6. Arifianto.2006.Pemberian Cairan Infus Intravena (Intravenous Fluids). http://www.sehatgroup.web.id/?p=20.admin.26 mei 2010. 04:00
About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: