masa bayi dalam kandungan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BALAKANG

Kehamilan merupakan suatu anugerah. Di perlukan perhatian ekstra selama masa kehamilan, kelahiran, serta paska kelahiran untuk memastikan proses tumbuh kembang yang optimal bagi sang buah hati. Selayaknya, kehamilan yang terjadi adalah kehamilan yang aman dan berkualitas. Aman dari arti terhindar dari komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan. Berkualitas dalam arti ibu dan bayi tetap dalam keadaan yang sehat.

Untuk mendapatkan kehamilan yang aman dan berkualitas, sebaiknya kehamilan tersebut adalah kehamilan yang telah di persiapkan. Kehamilan yang aman dan berkualitas harus dimulai sejak dalam masa prenatal (sejak dalam kandungan hingga kehamilan), asuhan prenatal yang diperlukan oleh tenaga medis juga memiliki peranan dalam menjamin kehamilan yang aman dan berkualitas.

Demi menjaga kehamilan aman dan berkualitas maka peran tenaga medis, terutama para bidan dan perawat dalam mejaga kualitas ibu hamil, bayi dan anak dibutuhkan tenaga medis yang professional.

  1. TUJUAN PENULISAN MAKALAH

Tujuan Penulisan Makalah ini untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan kualitas peran perawat dan bidan dalam memastikan ibu hamil, bayi, dan anak mendapatkan asupan nutrisi yang di perlukan untuk tumbuh kembang secara optimal, karena perawat dan bidang merupakan tenaga medis yang terdiri di barisan paling depan untuk menjaga kualitas ibu hamil, bayi dan sejak dini.

BAB II

PEMBAHASA

  1. PERIODE TUMBUH KEMBANG ANAK SEBELUM LAHIR

Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang di mulai sejak konsepsi sampai dewasa. Tumbuh kembang anak terbagi dalam beberapa periode. Berdasarkan kepustakaan, maka periode tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut:

Masa Prenatal Atau Masa Intrauterin (masa janin dalam kandungan) masa ini di bagi dalam tiga periode, yaitu:

  • Masa zigot/mudigah : sejak saat konsepsi sampai umur kehamilan 2 minggu.
  • Masa embrio : sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu.

Ovum yang telah di buahi dengan cepat akan menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung dengan cepat, terbentuk system organ dalam tubuh.

  • Masa janin/fetus : sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir kehamilan.

Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :

Masa fetus dini : yaitu sejak umur kehamilan 9 minggu sampai trimester ke 2 kehidupan intra uterin. Pada masa ini terjadi percepatan pertumbuhan pembentukan jasad manusia sempurna. Alat tubuh telah terbentuk serta mulai berfungsi.

Masa fetus lanjut : yaitu trimester akhir kehamilan. Pada masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan fungsi-fungsi. Terjadi transfer immunoglobulin G (Ig G) dari darah ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esensial seri Omega3 (Docosa Hexanic Acid) dan Omega6  (Arachidonic Acid ) pada otak dan retina.

Periode yang paling penting dalam masa prenatal adalah trimester pertama kehamilan. Pad aperiode ini tumbuh otak janin sangat peka terhadap pengaruh lingkungan janin. Gizi kurang pada ibu hamil, infeksi, merokok dan asap rokok, minuman beralkohol, obat-obat, bahan-bahan toksik, pola asuh, depresi berat, factor psikologis seperti kekersan terhadap ibu hamil, dapat menimbulkan buruk bagi pertumbuhan janin dan kehamilan.

  1. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUH TUMBUH KEMBANG

Secara umum terdapat 2 faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kebang anak, yaitu :

B.1 Faktor Genetik

Termasuk factor genetikan antara lain adalah factor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin suku, bangsa dan bangsa. Potensi genetic yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi terhadap lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal. Gangguan pertumbuhan di Negara maju lebih sering di akibatkan oleh factor genetic ini. Sedangkan di Negara yang sedang berkembang gangguan pertumbuhan selain di akibatkan oleh factor genetic, juga factor lingkungan yang kurang memadai untuk tumbuh kembang anak yang optimal, bahkan ke dua factor ini juga dapat menyebabkan kematian anak-anak sebelum mencapai usia balita.

B.2 faktor lingkungan

Lingkungan merupakan factor yang paling menentukan tercapai atau tidaknya factor bawaan. Lingkungan ini merupakan lingkungan “ bio-fisiko-psiko – social” yang mempengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai dengan hayatnya.

Factor lingkungan ini secara garis besar di bagi menjadi :

a)      Factor lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (masa pranatal)

b)      Factor lingkungan yang lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (masa posnatal)

  1. FAKTOR LINGKUNGAN PRENATAL

Factor lingkungan prenatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir antara lain adalah :

  1. Gizi ibu pada waktu hamil

Gizi ibu yang jelek pada saat kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus, dll.

Sebuah penelitian terbaru oleh Dr.E. Birch melaporkan bahwa anak yang di berikan asupan susu dengan 0,36% DHA (90 mg DHA/100 gram) dan 0,72% ARA ( 180 mg ARA / 100gram) selama awal kehidupannya, pada usia 4 tahun memiliki tingkat IQ 7 poin lebih tinggi di bandingkan mereka yang tidak mendapatkan DHA dan ARA. Penelitian tersebut menunjukkan bahkan bukan hanya isi kandungan saja, tetapi juga kadar kandungannya ikut menentukan manfaat kecerdasannya.

  1. Mekanisme

Trauma dan cairan ketuban yang dapat menyebakan kelainan bawaan pada bayi yang akan di lahirkan. demikian pula pada posisi janin pada uterus dapat mengkibatkan talipes, dislokas panggul, tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kronio tabes.

  1. Toksin / zat kimia

Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti talidomoda, penitoil, metadion, obat-obatan anti kanker, dan lain sebagainya dapt menyebabkan kelainan bawaan. Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat atau peminum alcohol kronis sering melahirkan bayi BBLR, lahir mati, cacat atau retadasi mental.

Keracunan logam berat pada ibu hamil, misalnya karena makan ikan yang terkontaminasi merkuri dapat mengakibatkan mikrosefali dan palsi serebralis, seperti di jepang yang di kenal sebagai penyakit minamata.

  1. Endokrin

Hormone-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatrotopin, hormone plasenta, hormone tiroid, insulin dan peptide-peptida lain dengan aktifitas mirip insulin (insulin – like growt factors / IGFs )

Somatrotopin (growth hormone) di sekresi oleh kelenjar hipofisis ajnin sekitar minggu ke 9. produksinya terus meningkat sampai minggu ke 20. selanjutnya menetap sampai lahir. Perannya belum jelas pada janin. Hormone-hormon tiroid seperti TRH (thiyroid realizing hormone), TSH (thyroid simulating hormone), T3 dan T4 sudah di produksi oleh janin sejak minggu ke 12. pengaturan oleh hipofisis sudah terjadi pada minggu ke 13. kadar hormone ini makin meningkat sampai minggu ke 24, lalu konstan. Perannya belum jelas tetapi jika terdapat defisiensi hormone tersebut, dapat terjadi gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Insulin mulai di produksi oleh janin pada minggu ke 11, lalu meningkat sampai bulan ke 6 dan kemudian konstan. Befungsi untuk petumbuhan janin melalui pengaturan keseimbangan glukosa darah, sintesis protein janin.

  1. Radiaasi

Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya. Misalnya pada peristiwa di Hiroshima, Nagasaki dan chernobel. Sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki, dapat mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.

  1. Infeksi

Infeksi intra uterin yang sering menyebabkan Cacat Bawaan adalah capital torch (toxoplasmosis, rubella, cytomegalofirus, herpes simplex). Sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah farisella coxackie, echovirus, malaria lues, hiv, campak, polio, listeriosis, leptospira, mikoplasma, virus influinsa, dan hepatitis. Diduga setiap hiperpireksia pada ibu hamil dapat merusak janin.

  1. Stress

Stress yang di alami ibu pada ibu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan jiwa, kejiwaan dan lain-lain

  1. Imunitas

Resis atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrofetalis, kern ikterus, atau lahir mati.

  1. Anoksia embrio

Menurutnya oksigenasi janin melalui pada ganguan plasenta atau tali pusat menyebabkan Berat Badan Lahir Rendah.

  1. PRILAKU PRANATAL

Janin dalam kandungan ternyata memiliki kebiasaan dan gerakan seperti bayi yang sudah lahir. Mereka mampu mengejapkan mata, menguap, mengernyitkan dahi, menangis, tersenyum, dan berjalan! Sampai detik ini, kalangan dokter dan orangtua percaya, janin dalam rahim tak dapat tersenyum sampai beberapa minggu setelah lahir. Namun, dengan bantuan scan ultrasound 4D jenis terbaru, gerakan-gerakan janin dapat dilihat secara gamblang dan jauh lebih detil ketimbang ultrasound konvensional. Seperti tampak dalam gambar, janin

  • Pada usia 12 minggu, janin dapat meregang, menendang, dan melangkah. Ini terjadi jauh sebelum si ibu mampu merasakan gerakan-gerakan janin dalam perutnya.
  • Usia 18 minggu, janin dapat membuka matanya meskipun sebagian besar dokter berpikir kelopak mata janin masih menempel sampai usia 26 minggu.
  • Usia 26 minggu, janin melakukan semua gerakan, bahkan mampu menunjukkan perasaannya selayaknya bayi yang sudah lahir. Mereka menggaruk, tersenyum, menangis, cegukan, dan mengisap.
  1. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRILAKU PRANATAL

Kondisi Ibu hamil, aspek fisik dan psikis adalah dua hal yang terkait erat, saling pengaruh-mempengaruhi, atau hampir tidak terpisahkan. Jika kondisi fisiknya kurang baik, maka proses berpikir, suasana hati, kendali emosi dan tindakan yang bersangkutan dalam kehidupan sehari-hari akan terkena imbas negatifnya

Antara lain, suasana hati atau keadaan emosi cepat berubah, kepekaan meningkat, dan perubahan pola. Suasana hati yang kelam dan emosi yang meledak-ledak dapat mempengaruhi detak jantung, tekanan darah, produksi adrenalin, aktivitas kelenjar keringat, sekresi asam lambung, dan lain-lain. Trauma, stres, atau tekanan psikologis juga dapat memunculkan gejala fisik seperti letih, lesu, mudah marah, gelisah, pening, mual atau merasa malas. Karena perubahan yang terjadi pada fisik mempengaruhi aspek psikologis dan sebaliknya, maka mudah bagi ibu hamil untuk mengalami trauma. trauma ini ternyata dapat dirasakan juga oleh janin. Bahkan, janin sudah menunjukkan reaksi terhadap stimulasi yang berasal dari luar tubuh ibunya. Oleh karena itu, mau tidak mau ibu hamil harus menjaga kondisi fisik maupun psikisnya agar bayinya dapat tumbuh sehat.

  1. PERILAKU ABNORMAL PRANATAL

Teknik pengambilan gambar yang dikembangkan Campbell, selain menyajikan gambar-gambar 3D, juga membantu dokter mendapatkan peringatan dini bila bayi-bayi dalam kandungan itu abnormal, seperti:

  • Langit-langit mulutnya terbelah,
  • Menderita sindrom down
  • Kelainan lain yang berkaitan dengan tungkai, lengan, serta anggota tubuh lainnya.
  1. NUTRISI UNTUK KEHAMILAN AMAN DAN BERKUALITAS

ASI/susu eksklusif merupakan sumber nutrisi yang terbaik bagi bayi untuk tumbuh kembang yang optimal. Pemberian ASI selama 6 bulan sangat penting, karena ASI memiliki kandungan nutrisi paling lengkap untuk tumbuh kembang anak, termasuk untuk perkembangan otaknya.

Oleh karena itu sebisa mingkin setiap ibu memberikan ASI kepada bayi mereka. Namun bila karena suatu hal ibu tidak bias memberikan ASI, sebaiknya ibu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan buah hatinya tetap mendapatkan cukup nutrisi untuk tumbuh kembangnya.

Salah satu nutrisi yang berperan penting dalam kehamilan adalah kolina, yang merupakan komponen penting dalam membangun jaringan otak, termasuk proses perkembangan memori dan pembelajaran pada bayi. The United States Institute Of Medicine (IOM) merekomendasikan pemberian kolina sebesar 450 mg per hari untuk ibu hamil. Sebaiknya kolina di konsumsi sejak merencanakan kehamilan.

  1. GIZI IBU HAMIL

Untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil, maka ibu hamil harus makan teratur 3 kali sehari dimana hidangan harus tersusun dari bahan makanan yang bergizi yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayuran dan buah-buahan dan di usahakan minum susu minimal 1 gelas setiap hari. Piih bahan makanan yang segar dan hindari bahan makanan yang di awetkan.

Ibu hamil membutuhkan lebih banyak energy protein, vitamin A,C, D dan kelompok vitamin B (B1, B2, B6, B12), zat besi, kalsium, serat makanan untuk menjaga kesehatan ibu dan zat gizi untuk perkembangan  otak dalam kandungan seperti Omega 3, Omega 6, DHA, asam folat dan kolin.

Diagram kebutuhan vitamin dan energi ibu hamil :

JENIS VITAMIN SUMBER FUNGSI
Vitamin A Lemak hewani, mentega, keju, kuning telur, susu lengkap, minyak ikan, sayuran hijau, buah yang kuning dan sayuran. Membantu pertumbuhan sel tubuh dan penglihatan, menyehatkankan rambut dan kulit integritas membrane epitel dan mencegah xerophtalmia
Vitamin B1 (thiamin) larut dalam air Ikan daging ayam tanpa lemak, kacang-kacangan dan susu Metabolisme karbohidrat, membantu kelancaran system persarafan, dan mencegah beri-beri atau penyakit yang di tandai neuritis.
Vitamin B2 (riboflavin)

Larutan dalam air

Telur, sayur hijau, daging tanpa lemak, susu, dan biji-bijian Membantu membentuk enzim, pertumbuhan, dan membantu adaptasi cahaya dalam mata
Vitamin B3 (niacin) Daging tanpa lemak, hati ikan,kacang-kacangan, biji-bijian, telur dan hati Metabolisme karbohidrat, lemak, protein, dan komponen unzim serta mencegah menurunnya nafsu makan
Vitamin B6 (pyrodoksin) Biji-bijian, sayur, daging dan pisang Membantu kesehatan gusi dan gigi, pembentukan sel darah merah, serta metabolisme karbohidrat, lemak dan protein
Vitamin B12 (cyanocobalamin) Hati, susu, daging tanpa lemak, kerang laut. Metabolisme protein, membantu pembentukan sel darah merah, kesehatan jaringan dan mencegah anemia.
Vitamin C (ascorbut acid) Jeruk, tomat, kubis, sayuran hijau dan kentang Menjaga kesehatan tulang, gusi, membantu membentuk dinding pembuluh darah dan pembuluh kapiler, kesembuhan jaringan dan tulang, serta memudahkan penyerapan zat besi dan asam folat.
Protein daging tak berlemak, ikan, telur , susu dan hasil olahannya
Zat besi Hati, telur,  daging Komponen hemoglobin dan membantu oksidasi sel
Vitamin D Minyak ikan, susu, kuning telur, mentega, hati, kerang, atau terbentuk dikulit akibat pemanasan sinar matahari Membantu penyerapan fosfor serta mencegah rakhitis
Kalsium Susu Pembentukan gigi dan tulang, aktivitas neuromuscular dan koagulasi (penggumpalan) darah.
Asa folat
Magnesium Biji-bijian, susu dan daging Pengaktifan enzim, pembentukan gigi dan tulang dan membantu kegiatan neuormuskular
Yudium Garam beryodium dan makanan laut Mengaur metabolisme tubuh dan memperlancar pertumbuhan
Omega 6 Ikan cots Pembentukan tulang, kecerdasan.
DHA Telur, susu, pembentukan saraf otak dan perkembngan otak

Kebutuhan gizi bagi ibu hamil juga penting agar luka-luka persalinan lekas sembuh dalam masa nifas (40 hari setelah melahirkan), dan untuk cadangan makanan pada masa laktasi.

Frisian flag mama di lengkapi dengan nutribrain® yang merupakan dari asam folat, Omega 3, Omega 6, DHA, dan kolin untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan otak bayi pada tahap yang paling awal dalam kehdupan.

Kebutuhan Zat Gizi Utama Ibu Hamil Tiap Trimester

TRIMESTER KE 1

(Masa pertumbuhan dasar)

Masa kritis bagi pembentukan organ janin (system saraf, otak, jaringan, otot, dan sel-sel darah), dan pembentukan plasenta, jadi selain mengkonsumsi makanan begizi seimbang, jangan abaikan kebutuhan tubuh akan protein, asam folat, seng, kolin, DHA, dan zat besi.
TRIMESTER KE 2

(masa pertumbuhan menyeluruh)

Masa pertumbuhan janin dan plasenta, serta pertumbuhan volume darah. Konsumsi akan protein, kalsium dan zat besi harus mencukupi.
TRIMESTER KE 3

(masa pertumbuhan penyempurnaan)

Masa mengoptimalkan tumbuh kembang otak janin serta persiapan persalinan. Tubuh perlu cukup zat besi, kalsium, seng, vitamin B6, DHA, Omega 3, Omega 6, dan kolin.

  1. GIZI KURANG PADA IBU HAMIL

Bila ibu mengalami kekurangna gizi selama hamil akan menimbulkan masalah, baik pada ibu maupun pada janin, seperti berikut ini :

  1. Terhadap ibu

Gizi kurang pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi pada ibu antara lain : anemia , pendarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal, dan terkena penyakit infeksi

  1. Terhadap persalinan

Pengaruh gizi kurang terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunyaatau premature, pendarahan serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat.

  1. Terhadap janin

Kekurangan gizi pada ibu hamildapat mempengaruhi proses pertimbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfeksia, intrapartum atau mati dalam kandungan lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk status gizi ibu hamil antara lain memantau pertambahan berat badan selama hamil, mengukur lingkar lengan atas (LILA) dan mengukur kadar Hb. Pertambahan berat badan selama hamil sekitar 10-12 kg, dimana pada trimester satu pertambahan kurang dari 1 kg, trimester 2 sekitar 2 kg dan trimester 3 sekitar 6 kg. pertambahan berat badan ini sekaligus bertujuan memantau petumbuhan janin. Pengukuran LILA  dimaksudkan untuk mengetahui apakah seseorang menderita Kurang Energi Kronis (KEK), sedangkan pengukuran kadar Hb untuk mengetahui kondisi ibu apakah menderita anemia gizi

  1. Gangguan pada ibu hamil
  1. Anemia pada ibu hamil

Anemia dapat di definisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal. Disebabkan kekurangan zat besi sehingga lebih di kenal dengan istilah anemia gizi besi. Anemia defesiensi bezi merupakan salah satu gangguan yang sering terjadi selama kehamilaan. Ibu hamil umumnya mengalmi depresi sehingga hanya menerima sedikit besi kepada janin yang di butuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin turun sampai di bawah 11 gr selama trimester 3

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan ganguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi juga dapat menyebabkan kematian janin dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR,  anemia pada bayi yang dilahirkan. Hal ini dapat menyebabkan mordilitas dan mortalitas ibu dan kematian prenatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu hamil yang menderita anemia berat meningkatkan resiko mordilitas dan mortalitas ibu dan bayi kemungkinan BBLR juga lebih besar.

  1. Resiko BBLR pada ibu hamil

Di Indonesia batas ambang LILA dan KEK adalah 23,5 cm hal ini berarti ibu hamil dengan resiko KEK di perkirakan akan melahirkan bayi BBLR. Bila bayi lahir BBLR akan mempunyai resiko kematian gizi kurang, gangguan pertmbuhan, dan gangguan perkembangan anak. Untuk mencegah resiko KEK pada ibu hamil sebelum kehamilan wanita usia subur sudah harus mempunyai gizi yang baik misalnya dengan LILA tidak kurang dari 2,5 cm. apabila LILA sebelum hamilan kurang dari angka tersebut sebaiknya kehamilan di tunda sehingga tidak melahirkan bayi BBLR.

Hasil penelitian etwi saraswati dan kawan-kawan. Jawa barat (1998) menunjukka KEK pada batas 2,5 cm belum merupakan resiko untuk melahirkan BBLR walaupun resiko relatifnya cukup tinggi. Sedangkan ibu hamil dengan KEK pada batas 23 cm mempunyai resiko 2,0087 kali untuk melahirkan BBLR di banding dengan ibu yang mempunyai LILA dari 23 cm.

Sebagaimana disebutkan diatas berat bayi yang di lahirkan dapat dipengaruhi oleh setatis gizi baik sebelum hamil maupun saat hamil. Setatus gizi ibu sebelum hamil juga cukup berperan dalam pencapaian gizi ibu saat hamil. Penelitian rosmeri (2000) menunjukkan bahwa status gizi ibu sebelum hamil mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap kejadian BBLR ibu dengan status gizi kurus sebelum hamil mempunyai resiko 4,27kali gizi baik (normal).

Hasil penelitian jumiarah,dkk.(1999) menujukkan bahwa ada hubungan kadar Hb ibu hamil dengan berat bayi lahir, dimana semakin tinggi kadar Hb berat badan bayi yang di lahirkan. Sedangkan penelitian Edwu saraswati, dkk 1998. menemukan bahwawa anemia pada batas 11 gr bukan merupakan resiko untuk melahirkan BBLR hal ini mungkin karena belum berpengaruh terhadap fungsi hormone maupun fisiologis ibu.

Selanjutnya pada analisa bivariat anemia batas 9 gr atau anemia berat di temukan secara statistic tidak nyata melahirkan BBLR. Namun, untuk melahirkan bayi mati mempunyai resiko 3,081 kali. Dari hasil analisa multivariat dengan memperhatikan masalah riwayat kehamilan sebelumnya menunjukkan bahwa ibu hamil penderita anemia berat mempunyai resiko untuk melahirkan BBLR 4,2 kali lebih tinggi di bandingkan dengan ibu yang tidak menderita anemia berat.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  1. Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa
  2. tumbuh kembang mengikuti pola-pola tertentu tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan yang lainnya.
  3. tumbuh kembang di pengaruhi oleh factor bawaan dan lingkungan. Lingkungan yang baik akan memungkinkan potensi bawaan, sedangkan yang kurang baikakan menghambatnya.
  4. pentingnya ibu dalam ekologi anak, sebagai “parade genetic” factor, yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang postnatal dan perkembangan kepribadian anak. Juga pentingnya menyusui dalam tumbuh kembang anak.
  5. perlunya stimulasi dalam tumbuh kembang anak.
  6. perlunya deteksi dan penanganan dini, untuk meningkatkan sumberdaya manusia kelak.

  1. SARAN

Kekurangan gizi pada ibu hamil mempunyai dampak yang cukup besar terhadap proses pertumbuhan janin dan anak yang akan dilahirkan. Bila ibu hamil mengalami kurang gizi maka akibat yang di timblkan antara lain : keguguran, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, dan bayi lahir dengan BBLR.

Maka untuk memperkecil resiko ibu kekurangan gizi diperlukan upaya mempertahankan kondisi gizi yang baik pada ibu hamil. Upaya yang dilakukan berupa pengaturan konsumsi makanan, pemantauan pertambahan berat badan, pemeriksaan kadar Hb, dan pengukuran LILA sebelum atau saat hamil.

DAFTAR PUSTAKA

    1. Potter, PA & perry, AG., 1993, fundamental of nursing : concepts process practice, 3ͬ ͩ  editions, St. louis : mosby year book.
    2. Potter, PA & perry, AG., 1997,  fundamental of nursing : concepts process practice, 4ͭ ͪ editions, St. louis : mosby year book.
    3. Kozier Erb et all, 1995, fundamental of nursing : conseptss proses and practis ethic & values, kalifornia : Addison Wesley publisher.
    4. www. Google. Com.
    5. Abrams, B et al, Maternal Nutrition : in Maternal Fetal Medicine, 4 th ed, Creasy – Resnik, WB. Saunders, 1999, p. 122 – 131

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: